top of page
candi gumpung.jpg

Analisis Arca Prajnaparamitha di Muaro Jambi Berdasarkan Kajian Ikonografi Erwin Panofsky

Menelusuri makna spiritual, seni, dan intelektual dalam peninggalan Buddha klasik Nusantara.

arca.jpeg

Sumber: Museum Muaro Jambi

Periode Kekalangan

[1] Abad 7–14 M

[3] Pusat Pendidikan

Intelektualitas

[2] Pengaruh Sriwijaya

Warisan Budha

[4] Kompleks Terbesar

Warisan Budaya

Pusat Peradaban Buddha di Asia Tenggara

Candi Muaro Jambi merupakan salah satu kawasan percandian Buddha terbesar di Asia Tenggara yang memiliki peranan penting dalam sejarah perkembangan agama Buddha di Nusantara. Kawasan ini diperkirakan berkembang antara abad ke-7 hingga abad ke-14 Masehi dan sering dikaitkan dengan pengaruh Kerajaan Sriwijaya serta Melayu Kuno. Selain berfungsi sebagai pusat ritual keagamaan, Muaro Jambi juga diyakini sebagai pusat pendidikan dan pengembangan intelektual agama Buddha pada masa klasik. Kompleks percandian ini memperlihatkan adanya kehidupan religius yang maju, didukung oleh aktivitas pembelajaran, penyalinan naskah, meditasi, serta penyebaran ajaran Buddha ke berbagai wilayah Asia Tenggara. Salah satu tinggalan penting yang ditemukan di kawasan ini adalah arca Prajnaparamita dari Candi Gumpung yang menunjukkan tingginya perkembangan seni pahat dan spiritualitas masyarakat pada masa tersebut.

Penemuan dan deskripsi Arca Prajnaparamitha

 Arca Prajnaparamitha ditemukan pada tahun 1978 ketika dilakukan pemugaran di kawasan Candi Gumpung. Saat ditemukan, kondisi arca sudah tidak utuh karena bagian kepala, siku, serta sebagian tangan kanan dan kiri telah hilang. Meskipun mengalami kerusakan, bentuk tubuh, ornamen, serta detail pahatan lainnya masih dapat diamati dengan cukup jelas sehingga para peneliti dapat mengidentifikasi arca tersebut sebagai Prajnaparamita. Penemuan arca ini menjadi penting karena memperlihatkan adanya pengaruh kuat ajaran Buddha Mahayana dan Tantrayana di Muaro Jambi. Selain itu, kualitas artistik arca menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki kemampuan seni yang tinggi, terutama dalam bidang seni pahat batu. Saat ini arca Prajnaparamita menjadi salah satu tinggalan budaya penting dari Muaro Jambi yang memiliki nilai arkeologis, historis, religius, dan edukatif. Arca tersebut juga menjadi simbol identitas budaya masyarakat Jambi yang terus diperkenalkan melalui penelitian, pendidikan, dan pelestarian budaya.

Deskripsi arca prajnaparamitha

 Dalam kajian ikonografi Erwin Panofsky, tahap pertama adalah pra-ikonografi, yaitu tahap pengamatan visual terhadap objek tanpa memberikan penafsiran simbolik. Pada tahap ini, arca dipahami sebagai bentuk fisik yang dapat diamati secara langsung. Arca Prajnaparamita menggambarkan sosok figur perempuan yang duduk bersila di atas lapik berbentuk bunga teratai atau padmasana. Arca memiliki ukuran panjang sekitar 75 cm, lebar 57 cm, dan tinggi 80 cm. Bahan yang digunakan adalah batu pasiran dengan warna coklat keabu-abuan. Permukaan arca memperlihatkan pahatan yang cukup halus dan detail, terutama pada bagian pakaian dan ornamen tubuh.

 Tokoh pada arca digambarkan duduk dengan posisi tubuh tegap dan dada yang terbuka. Bagian perut terlihat sedikit menonjol sehingga memberikan kesan alami pada anatomi tubuh arca. Kaki digambarkan dalam posisi padmasana atau bersila dengan kedua telapak kaki menghadap ke atas. Posisi ini umum ditemukan pada arca-arca Buddha dan Bodhisattwa dalam tradisi Buddha Mahayana. Pada bagian tubuh terdapat berbagai hiasan berupa kalung, gelang tangan, gelang kaki, serta kelat bahu yang menunjukkan bahwa figur tersebut merupakan sosok penting atau suci. Pakaian yang dikenakan berupa kain panjang tipis hingga mencapai pergelangan kaki dengan motif hias ceplok. Selain itu, pada bagian belakang arca terdapat pahatan motif sulur dan pola floral yang menambah kesan dekoratif. Kedua tangan arca yang tersisa berada di depan tubuh dengan sikap dharmacakramudra, yaitu posisi tangan yang menyerupai gerakan memutar roda dharma. Walaupun bagian kepala telah hilang, keseluruhan bentuk arca masih menunjukkan proporsi tubuh yang harmonis dan pengerjaan seni yang cukup maju.

1. Tahap pra ikonografi

 Tahap kedua dalam metode Panofsky adalah ikonografi, yaitu tahap ketika unsur-unsur visual mulai dihubungkan dengan makna simbolik berdasarkan tradisi budaya dan keagamaan tertentu. Berdasarkan atribut dan bentuk visualnya, arca ini diidentifikasi sebagai Prajnaparamita, yaitu personifikasi kebijaksanaan tertinggi dalam ajaran Buddha Mahayana. Dalam konsep Buddha Mahayana, Prajnaparamita dipandang sebagai dewi kebijaksanaan yang melambangkan kesempurnaan pengetahuan spiritual. Istilah “Prajna” berarti kebijaksanaan, sedangkan “Paramita” berarti kesempurnaan. Dengan demikian, Prajnaparamita dapat dimaknai sebagai kesempurnaan kebijaksanaan yang menjadi jalan menuju pencerahan.

  Posisi duduk padmasana memiliki makna simbolik yang sangat penting dalam ajaran Buddha. Teratai dipandang sebagai simbol kesucian dan kemurnian karena bunga tersebut mampu tumbuh di lingkungan berlumpur tetapi tetap bersih dan indah. Oleh sebab itu, posisi duduk di atas teratai melambangkan kemampuan seseorang mencapai kesucian dan pencerahan meskipun hidup di dunia yang penuh penderitaan. Sikap tangan dharmacakramudra melambangkan pemutaran roda dharma atau penyebaran ajaran Buddha kepada umat manusia. Simbol ini berkaitan dengan penyampaian pengetahuan dan kebijaksanaan spiritual.

  Perhiasan yang dikenakan arca juga memiliki makna simbolik. Kalung, gelang, dan hiasan tubuh lainnya menunjukkan bahwa figur tersebut bukan manusia biasa, melainkan sosok suci yang memiliki kedudukan tinggi dalam kosmologi Buddha. Dalam seni Buddha Mahayana, Bodhisattwa dan dewi sering digambarkan memakai perhiasan mewah sebagai simbol kemuliaan spiritual. Motif floral dan sulur pada bagian belakang arca dapat dimaknai sebagai simbol kehidupan, pertumbuhan, dan keharmonisan alam semesta. Keseluruhan elemen visual pada arca menunjukkan bahwa karya tersebut tidak dibuat sekadar sebagai hiasan, melainkan sebagai media penyampaian nilai-nilai spiritual dan keagamaan.

2. Tahap ikonografi

Sumber: Museum Muaro Jambi

  Tahap terakhir adalah ikonologi, yaitu tahap analisis mendalam yang menghubungkan karya seni dengan konteks sosial, budaya, politik, dan intelektual masyarakat yang melahirkannya. Dalam perspektif ikonologi, arca Prajnaparamita dari Muaro Jambi menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat perkembangan agama Buddha yang sangat penting di Asia Tenggara. Keberadaan arca dengan kualitas seni tinggi menunjukkan adanya dukungan dari kekuasaan politik dan institusi keagamaan yang kuat pada masa itu. Hal tersebut juga memperlihatkan bahwa masyarakat Muaro Jambi telah memiliki sistem kepercayaan, pendidikan, dan kesenian yang berkembang dengan baik.

Muaro Jambi diperkirakan menjadi tempat para bhiksu dan pelajar agama Buddha mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Selain mempelajari ajaran keagamaan, mereka juga kemungkinan mempelajari filsafat Buddha, meditasi, sastra keagamaan, bahasa Sanskerta, penyalinan naskah, hingga konsep-konsep spiritual dalam Buddha Mahayana dan Tantrayana. Oleh karena itu, Muaro Jambi tidak hanya dipahami sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan intelektual. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu memiliki kehidupan intelektual yang cukup maju serta terhubung dengan jaringan pembelajaran Buddha internasional.

  Dari sisi psikologis dan spiritual, ajaran yang berkembang di Muaro Jambi menekankan pentingnya pengendalian diri, ketenangan pikiran, meditasi, dan pencapaian kebijaksanaan batin. Sosok Prajnaparamita sebagai simbol kebijaksanaan memperlihatkan bahwa masyarakat pada masa itu memandang pengetahuan spiritual sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai seperti kesabaran, pengendalian emosi, konsentrasi, dan pencarian pencerahan menjadi bagian penting dalam praktik kehidupan religius masyarakat Buddha di Muaro Jambi. Dengan demikian, arca ini juga dapat dipahami sebagai representasi cara berpikir dan pandangan hidup masyarakat pada masa klasik yang menempatkan spiritualitas dan kebijaksanaan sebagai tujuan utama kehidupan.

  Selain memiliki makna religius dan intelektual, arca Prajnaparamita juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jambi pada masa sekarang. Keberadaan arca ini menunjukkan kesinambungan sejarah budaya yang masih dihargai hingga saat ini. Arca tersebut tidak hanya menjadi objek penelitian arkeologi, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan daerah yang memperlihatkan bahwa Jambi pernah menjadi pusat peradaban besar di masa lalu. Melalui pelestarian dan kajian akademik, nilai-nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam arca Prajnaparamita dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

3. Tahap ikonologi

Sumber: Museum Muaro Jambi

Prajnaparamitha melambangkan kesempurnaan kebijaksanaan sebagai jalan menuju pencerahan.

Daftar Pustaka

Erwin Panofsky. (1955). The Iconography of the Renaissance. New York: Harper & Row.

Karya klasik tentang metode kajian ikonografi yang menjadi dasar analisis arca Buddha.

H. S. R. D. (2008). "Pengaruh Sriwijaya terhadap Budaya Jambi". Jurnal Sejarah Nusantara, 12(2), 45-60.

Analisis sejarah sejarah Muaro Jambi sebagai pusat peradaban Buddha di Asia Tenggara.

Lembaga Penelitian Arkeologi Nasional. (2010). "Kajian Arca Prajnaparamitha di Candi Gumpung". Jakarta: LIPAN.

Laporan hasil ekskavasi dan identifikasi arca Buddha Mahayana di kompleks candi.

S. W. (2012). "Simbolisme Padmasana dalam Budaya Nusantara". Jurnal Ilmu Budaya, 15(1), 112-125.

Penjelasan makna simbolik padmasana dan simbol teratai dalam arca Buddha.

Budaya Jambi. (2015). "Warisan Budaya Muaro Jambi: Sejarah dan Nilai". Bandung: Penerbit Sinar Harapan.

Buku panduan umum tentang nilai-nilai budaya dan identitas peradaban lokal.

foto ktm bbil.jpeg
tmn bbil.jpeg

penulis

Penulis berfokus pada kompleksitas arca Buddha klasik di Candi Gumpung, Muaro Jambi. Dengan pendekatan metodologis Erwin Panofsky, penulis ini mengkaji makna ikonografi dan nilai intelektual yang terkandung dalam arca Prajnaparamitha di Candi Gumpung sebagai simbol utama peradaban Buddha di Asia Tenggara.

Nabila Dwi Rahma Yani

Shabila Tulhidayah

tmn bbil2.jpeg
Kontak Akademik

Program Studi Arkeologi 
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Jambi
Email: nabiladwi3210@gmail.com 

shabilatulhidayah2006@gmail.com

radhit4343@gmail.com

M. Radhitia Abdullah

Analisis-Arca-Prajnaparamitha-di-Candi-Gumpung-melalui-metode-kajian-Erwin-Panofsky-logo

© 2026 Analisis Arca Muaro Jambi. Semua hak dilindungi.

“Melestarikan sejarah berarti menjaga identitas peradaban.”

bottom of page